psikologi keluarga

BAB I
PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang

  Manusia dilahirkan di dunia ini dalam keadaan fitrah, sehingga pengaruh lingkungan akan turut mempengaruhi perkembangan seseorang. Baik ataupun buruknya lingkungan akan menjadi referensi bagi perkembangan masyarakat sekitarnya. WH. Clarck mengemukakan bahwa bayi yang baru lahir merupakan makhluk yang tidak berdaya, namun ia dibekali oleh berbagai kemampuan yang bersifat bawaan. Disini mengandung pengertian bahwa sifat bawaan seseorang tersebut memerlukan sarana untuk mengembangkannya.Pendidikan merupakan sarana yang tepat dalam mencapai hal tersebut.Baik pendidikan keluarga, formal ataupun non formal sekalipun. Terlebih sebagai umat islam maka pendidikan islam tentu menjadi sebuah jalan yang harus ditempuh oleh semua umat.
  Makalah ini secara rinci akan membahas mengenai Agama ditinjau dari sudut psikologi. Pentingnya agama merupakan kewajiban setiap manusia untuk belajar sekaligus mengajar, hal ini bertujuan agar manusia mampu menerapkan tujuan pendidikan agama itu sendiri yaitu dalam konsep ketaqwaan dan keimanan.

B.       Rumusan Masalah
1.        Bagaimana peranan pendidikan keluarga ?
2.        Bagaimana peranan pendidikan lembaga ?

C.       Tujuan
1.        Memahami peranan pendidikan keluarga.
2.        Memahami peranan pendidikan lembaga.


BAB II
PEMBAHASAN

A.       Pendidikan Keluarga
  Keluarga masa kini berbeda dengan keluarga zaman dulu .dalam ikatan keluarga ,orang-orang yang mengalami pergolakan dan perubahan yang hebat ,khususnya mereka yang hidup di kota. Apabila ditinjau keluarga-keluarga di daerah yang belum mengalami maupun menikmati hasil kemajuan teknologi, kemajuan dalam dunia industri dan sebagainya, maka gambaran mengenai ikatam dan fungsi keluarga yang berada di tengah segalah kemegahan materi.[1]
  Anak pada masa bayi sampai sekolah memiliki lingkungan tunggal, Yaitu keluarga. Makanya tidak mengheran kan jika Gilbert Highest menyatakan bahwa kebiasaan yang dimiliki anank-anak sebagian besar terbentuk oleh pendidikan keluarga. Sejak bangundari tidur hingga saat akan tidur kembali, Anak-anak kenerima pengaruh dan pendidikan keluarga (Gilbert Highest, 1961).
Bayi yang baru lahir merupakan mahluk yang tidak berdaya, namun ia dibekali oleh bebagai kemampuan yang bersifat bawaan, Disini terlihat oleh berbagai aspek yang kontradiktif. Disatu pihak bayi bayi berada dalam kondisi tanpa daya, Sedang dipihak lain bayi mempunyai kemampuan untuk berkembang (exploratif). Tetapi menurut Walter Houston Clark, Perkembangan bayi tidak dapat berlangsung secara normal tanpa adanya interfensi dari luar, Walaupun secara alami ia memiliki potensi bawaan. Seandai nya bayi dalam pertumbuhan dan perkembangan nya hanya diharapkan menjadi manusia normal sekalipun, Maka ia memerlukan berbagai persyaratan tertentu serta pemeliharaan yang berkesinambungan (W.H.CLrak,1964).






  Dua ahli psikologi prancis bernama Itar dan sanguin pernah meniliti anak-anak asuhan srigala.Mereka menemukan dua oarang bayiyang dipelihara oleh seklompok srigala disebuah gua, Ketika ditemukan, kedua bayi manusia itu sudahberusia kanak-kanak. Namun, Kedua bayi tersebut tidak menunjukkan kemampuan yang seharus nya dimiliki manusia pada usia kanak-kanak. Tak seorangpun diantara keduanya mampu mengucapakan kata-kata, kecuali aungan sekor srigala.Keduanya juga berjalan merangkak dan makan dengan cera menjilat.Dan terlihat pertumbuhan gigi serinya paling pinggir lebih runcing menyerupai taring srigala.Setelah dikembalikan kelingkungan masyarakat mnusia, ternyata kedua anak-anak hasil asuhan srigala tak dapat menyesuikan diri, dan akhir nya mati.
  Kondisi seperti itu tampak nya menyebabkan manusia memerlukan pemeliharaan, Pengawasan dan bimbingan yang serasi dan sesuai agar pertumbuhan dan perkembangan dapat berjalan baik dan benar. Manusia memang bukan mahkluk yan instintik secara utuh, Sehingga ia tidak mungkin berkembang dan tumbuh secara instingtif sepenuh nya. Makanya menurut W.H. Clrak, bayi memerlukan persyaratan-persyaratan tertentupengawasan serta pemeliharaan terus menerus sebagai latihan dasar dalam pembentukan dasar dalam pembentukan kebiasaan dan sikap-sikap tertentu agar ia memiliki kemungkinanuntuk berkembang secara wajar dalam kehidupan dimassa depan.
  Keluarga menurut para pendidik merupakan lapangan pendidikan yang pertama dan pendidiknya adalah kedua orang tua.Orang tua adalh pendidik kodrati.Mereka pendidik bagi ank-anaknya karena secara kodrat ibu dan ayah diberikan anugrah oleh tuhan penciptaberupa naluri orang tua. Karena naluri ini,timbul kasih sayangpara orang tua terhadap anak mereka, sehingga secara moral kedua nya merasa terbeban tanggung jawab untuk memelihara, mengawasi ,melindungi, serta membimbing keturunan mereka.
  Sebenarnya keluarga mempunyai fungsi yang tidak hanya terbatas selaku penerus keturunan saja. Dalam bidang pendidikan , keluarga merupakan sumber pendidikan utama, karena segala pengetahuan dan kecerdasan intelektual manusia diperoleh pertama dari orang tua dan anggota keluarganya sendiri. Keluarga merupakan produsen dan konsumen sekaligus, dan harus mempersiapkan dan menyediakan segala kebutuhan sehari-hari seperti sandang dan pangan. Setiap anggota keluarga dibutuhkan dan saling membutuhkan satu sama lain, masing-masing anggota keluarga mempunyai peranan yang penting dalam roda kehidupan serta dibutuhkan oleh anggota lain.[2]
  Fungsi pendidikan sudah diserahkan pada lembaga-lembaga pendidikan seperti sekolah-sekolah, sehinggah tugas orang tua dalam hal memperkembangkan segi intelek anak menjadi jauh lebih ringan. Akhirnya kesatuan keluarga hanya dianggap sekedar proforma saja, hubungan antar pribadi makin jauh dan melemah, sehiggah akhirnya arti pribadi mengalami perubahan. Beberapa kebutuhan dasar individu sebagai suatu pribadi, dengan cara pandang hidup individualis tidak terpenuhi. Karena itu dapat menimbulkan frustasi.
  Dasar kepribadian seseorang terbentuk sebagai hasil perpaduan antara warisan sifat-sifat, bakat-bakat orang tua dan lingkungan dimana ia berada dan berkembang. Disinilah orang tua berperan dalam hal mencari lingkungan dan memilih lingkungan yang dapat membantu menguatkan dasar hati nurani anak. Tahap demi tahap anak dilepaskan kedalam lingkungan yang lebih luas dan lebih banyak pengaruhnya.
  Dalam bimbingan orang tua terhadap anaknya, jelas terlihat arti hubungan orang  tua dan sumbangan nya secara tidak langsung bagi kepentingan umum dan tercapainya masyarakat yang aman dan sentosa. Berbagai macam masalah umum tidak akan menjadi masalah dan tidak akan menyebabkan penderitaan bila ditangangi seawal mungkin, yakni penangan masalah dalam keluarga masing-masing.

B.       Pendidikan Lembaga
Di masyarakat primitif lembaga pendidikan secara khusus tidak ada.Anak-anak umumnya dididik dilingkungan keluarga dan masyarakat lingkungan nya.Pendidik secara kelembagaan memang belum diperlukan, karena fariasi profesi dalam kehidupan belum ada. Jika anak dilahirkan dilingkungan keluarga tani, Maka dapat dipastikan ia akan menjadi petani seperti orang tua dan masyarakat lingkungan nya. Demikian pula anak seorang nelayan, Ataupun anak seorang pemburu.
Sebaliknya, dimasyarakat yang telah memiliki peradaban modern, tradisi seperti itu tak mungkin dipertahankan.Untuk menyeleraskan diri dengan perkembangan kehidupan masyarakatnya, Seseorang memerlukan pendidikan.Sejalan dengan kepentingan itu, Maka dibentuk lembaga khusus yang menylenggarakn tugas-tugas kependidikan dimaksud.Dengan demikian, Secara kelembagaan maka sekolah-sekolah pada hakikat nya adalah merupakan lembaga pendidikan yang artifisialis (sengaja dibuat).
Selain itu, sejalan dengan fungsi dan peranan nya, maka sekolah sebagai kelembagaan pendidikan adalah pelajud dari pendidikan keluarga.Karena keterbatasan orang tua untuk mendidik anak-anak mereka, maka mereka diserahakn kesekolah-sekolah. Sejalan dengan kepentingan dan massa depan anak-anak, terkadang para orang tua sangat efektif dalam menentukan tempat untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Mungkin saja para orang tua yang berasal dari keluarga taat beragam akan memasukkan anak-anak nya kesekolah agama. Sebalik nya, para oarang tua lain lebih mengarahkan anak mereka kesekolah umum. Atau sebalik nya orang tua yang mengendalikan anak nya sulit bisa juga para orang tua memasukkan anak nya kesekolah Agama dengan tujuan pembentukan kepribadian yang lebih baik.[3]
Fungsi sekolah dalam kaitannya dengan pembentukan jiwa keagamaan pada anak, antara lain sebagai pelanjut pendidikan agama di lingkungan keluarga atau membentuk jiwa keagamaan pada diri anak yang tidak menerima pendidikan agama dalam keluarga. Dalam konteks ini guru agama harus mampu mengubah sikap anak didiknya agar menerima pendidikan agama yang dibarikannya.
Menurut Mc Guire proses perubahan sikap dari tidak menerima ke sikap menerima berlangsung melalui tiga tahap perubahan sikap. Proses pertama adalah adanya perhatian; kedua, adanya pemahaman; dan ketiga, adanya penerimaan (Djamaluddin Ancol: 40-41).
Dengan demikian pengaruh kelembagaan pendidikan dalam pembentukan jiwa keagamaan pada anak, sengat tergantung dari kemampuan para pendidik untuk menimbulkan ketiga proses itu. Pertama, pendidikan agama yang diberikan harus dapat menarik perhatian peserta didik. Untuk menopang pencapaian itu, maka guru agama harus dapat merencanakan materi, metode serta alat-alat bantu yang menungkinkan anak-anak memberikan perhatiannya.
Kedua, para guru agama harus mampu memberikan pemahaman kepada anak didik tentang materi pendidikan yang diberkannya. Pemahaman ini akan lebih mudah diserap jika pendidikan agama yang diberikan dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Jadi tidak terbatas plada kegiatan yag bersifat hafalan semata. Ketiga, penerimaan siswa terhadap meteri pendidikan agama yang diberikan.
Penerimaan ini sangat tergantung dengan hubungan antara materi dengan kebutuhan dan nilai bagi kehidupan anak didik. Dan sikap menerima tersebut pada garis besarnya banyak ditentukan oleh sikap pendidik itu sendiri, antara lain memiliki keahllian dalam bidang agama dan memiliki sifat-sifatyang sejalan dengan ajaran agama, seperti jujur dan dapat dipercaya. Kedua ciri ini akan sangat menetukan dalam mengubah sikap para anak didik.[4]













BAB III
PENUTUP

3.1   Kesimpulan
          Keluarga masa kini berbeda dengan keluarga zaman dulu .dalam ikatan keluarga ,orang-orang yang mengalami pergolakan dan perubahan yang hebat ,khususnya mereka yang hidup di kota. Apabila ditinjau keluarga-keluarga di daerah yang belum mengalami maupun menikmati hasil kemajuan teknologi, kemajuan dalam dunia industri dan sebagainya, maka gambaran mengenai ikatam dan fungsi keluarga yang berada di tengah segalah kemegahan materi.
Fungsi sekolah dalam kaitannya dengan pembentukan jiwa keagamaan pada anak, antara lain sebagai pelanjut pendidikan agama di lingkungan keluarga atau membentuk jiwa keagamaan pada diri anak yang tidak menerima pendidikan agama dalam keluarga. Dalam konteks ini guru agama harus mampu mengubah sikap anak didiknya agar menerima pendidikan agama yang dibarikannya.
Masyarakat merupakan lapangan pendidikan yang ketiga.Para pendidik umumnya sependapat bahwa lapangan pendidikan yang ikut mempengaruhi pendidikan anak didik adalah keluarga, kelembagaan pendidiklan dan lingkungan masyarakat. Kerasian antara ketiga lapangan pendidikan ini akan memberi dampak yang positif bagi perkembangan anak, termasuk dalam pembentukan jiwa keagamaan mereka.












DAFTAR PUSTAKA
Ali Ashraf, Horison..Pendidikan Islam. Jakarta: Pustaka Firdaus.1993
Gunarsa Singgih,D.Psikologi Untuk Keluarga. Jakarta:Gunung Mulia.2009
Hasan Chalijah. Dimensi-dimensi Psikologi Pendidikan. Surabaya: Al Ikhlas.1994
Jalaludin.Psikologi Agama. Jakarta: PT Rajawali Grafindo.2005
Prof.Dr.H Jalaludin.Psikologi Agama. Jakarta: rajawali Pers.2004




[1]Dra.Ny.Singgih D.Gunarsa.2009. Psikologi Untuk Keluarga. Jakarta: Gunung Mulia

[2]ChalijahHasan.1994. Dimensi-dimensi Psikologi Pendidikan. Surabaya: Al Ikhlas

[3] HorisonAli Ashraf. 1993.Pendidikan Islam. Jakarta: Pustaka Firdaus

[4]Jalaludin. 2005.Psikologi Agama. Jakarta: PT Rajawali Grafindo

Comments

Popular posts from this blog

kelemahan model pengajaran langsung

bahan ajar buku teks

Governance