Hipetrofi
2.1 Definisi Hipetrofi
Benigna Prostat Hiperplasi{hipertrofi}( BPH )
adalah pembesaran jinak kelenjar prostat, disebabkan oleh karena hiperplasi
beberapa atau semua komponen prostat meliputi jaringan kelenjar / jaringan
fibromuskuler yang menyebabkan penyumbatan uretra pars prostatika ( Lab / UPF
Ilmu Bedah RSUD dr. Sutomo, 1994 : 193 ).
BPH adalah pembesaran progresif dari kelenjar
prostat ( secara umum pada pria lebih tua dari 50 tahun ) menyebabkan berbagai
derajat obstruksi uretral dan pembatasan aliran urinarius ( Marilynn, E.D, 2000
: 671 ).
2.2 Anatomi Kelenjar Prostat
Kelenjar
prostat adalah suatu organ yang berlokasi pada dasar atau leher dari kandung
kemih.Kelenjar yang mengelilingi bagian pertama dari urethra.Urethra adalah
jalanan lintasan dimana urin mengalir dari kandung kemih untuk keluar dari
penis. Beratnya pada orang dewasa kira-kira 220 gram dengan ukuran rata-rata
panjang 3,4 cm, lebar 4,4 cm dan tebal 2,6 cm (kira-kira sebesar buah kenari).
Pada potongan melintang
setinggi uretra pars posterior kelenjar prostat terdiri dari:
1. Kapsul anatomi
2. Jaringan stroma yang
terdiri dari jaringan fibrosa dan jaringan muscular
3. Jaringan kelenjar yang
terdiri atas 3 kelompok bagian:
a. Bagian luar disebut
kelenjar prostat sebenarnya
b. Bagian tengah disebut
kelenjar submukosal, lapisan ini disebut juga sebagai adenomatous zone
c. Disekitar uretra disebut
periurethral gland
Saluran
keluar dari ketiga kelenjar tersebut bersama dengan saluran dari vesika
seminalis bersatu membentuk duktus ejakulatorius kommunis yang
bermuara ke dalam uretra.
Satu fungsi dari kelenjar
prostat adalah membantu mengontrol pembuangan air kecil dengan menekan secara
langsung pada bagian urethra yang dikelilinginya. Fungsi lain dari kelenjar
prostat adalah untuk menghasilkan beberapa unsur-unsur yang ditemukan pada
semen (air mani) yang normal, seperti mineral-mineral dan gula. Semen adalah
cairan yang mengangkut sperma.
Selama
penuan yang normal, bagaimanapun, kelenjar biasanya tumbuh lebih
besar.Pembesaran dengan penuaan ini disebut hipertropik prostat yang ramah [benign prostatic hypertrophy (BPH)],
Suatu kelenjar prostat yang membesar dapat menekan atau menimpa pada saluran
keluar kandung kemih atau urethra, menjurus pada sulitnya untuk membuang air
kecil. Gejala-gejala yang diakibatkannya termasuk aliran kencing yang melambat
dan kencing lebih sering, terutama pada waktu malam hari
2.3 Gejala
hipertropi Prostat
Seiring dengan bertambahnya usia, kelenjar
prostat akan terus membesar. Pada sebagian pria, pembesaran ini cukup
signifikan sehingga menekan saluran kencing (urethra) yang diselubunginya.
Akibatnya, diameter saluran kencing akan mengecil, atau bahkan tersumbat sama
sekali. Hal inilah yang menjadi penyebab timbulnya gejala yang dirasakan
penderita. Gejala-gejala tersebut antara lain :
- Sulit untuk mulai berkemih.
- Aliran kemih lemah, dan kadang-kadang terhenti.
- Kencing menetes sebelum dan setelah berkemih.
- Sering merasa sangat ingin berkemih.
- Sering bangun di malam hari untuk berkemih.
- Rasa tidak puas setelah berkemih, terasa kandung kemih masih ada isinya tetapi sudah tidak bisa dikeluarkan lagi.
Kadang-kadang pembesaran
kelenjar prostat akan memicu timbulnya komplikasi berupa infeksi saluran kemih,
batu saluran kemih, kencing keluar darah, dan gangguan fungsi ginjal.
Namun dengan gejala seperti
di atas, tidak dapat dengan serta merta dikatakan seseorang adalah penderita
pembesaran kelenjar prostat. Banyak gangguan atau penyakit yang memberikan
gejala yang hampir sama. Oleh karena itu, sebelum diagnosis pembesaran kelenjar
prostat jinak ditegakkan, maka serangkaian pemeriksaan harus dilakukan, antara
lain colok dubur, analisis urin, uji PSA (prostatic specific antigen), biopsi,
dll.
Gangguan yang sering
memberikan gejala mirip pembesaran prostat antara lain batu kandung kemih,
infeksi saluran kencing, gagal jantung, diabetes, stroke, gangguan persarafan,
peradangan prostat, kanker prostat, jaringan parut pada saluran kencing, dll.
2.4 Teori
Penyebab
Hingga sekarang masih belum
diketahui secara pasti penyebab terjadinya hiperplasia prostat, tetapi beberapa
hipotesa menyebutkan bahwa hiperplasia prostat erat kaitanya dengan peningkatan
kadar dehidrotestosteron (DHT) dan proses aging (menjadi tua).
Pertumbuhan kelenjar
prostat sangat tergantung pada hormon testosteron yang didalam sel-sel kelamin
prostat hormon ini akan dirubah menjadi dehidrotestosteron (DHT) dengan bantuan
enzim alfa reduktase. DHT inilah yang kemudian akan diikat oleh reseptor yang
berada dalam sitopalsma sel prostat sehingga membentuk DHT reseptor Kompleks,
yang kemudian akan masuk kedalam inti sel dan secara langsung memacu m-RNA
untuk mensintesis protein sehingga terjadi proliferasi sel.
Beberapa hipotesis yang
diduga sebagai penyebab timbulnya hiperplasia prostat adalah:
Adanya perubahan keseimbangan antara hormon
testosteron dan estrogen pada usia lanjut
Peranan dari growth factor sebagai pemacu
pertumbuhan struma kelenjar prostat.
Meningkatnya lama hidup
sel-sel prostat karena berkurangnya sel yang mati.Teori sel sterm menerangkan
bahwa terjadi proliferasi abnormal sel sterm sehingga menyebabkan produksi sel
struma dan sel epitel kelenjar prostat menjadi berlebihan.
Perubahan mikroskopik pada
prostat sudah dapat diidentifikasi pada pria usia 30 – 40 tahun, dan apabila
terus berkembang akan terjadi perubahan patologi anatomi, yang pada pria usia
50 tahun pada autopsi angka kejadiannya sekitar 50% dan pada usia 80 tahun
menjadi 80% sekitar 50% dari angka tersebut akan menyebabkan gejala dan tanda
klinik.
2.5 Patogenesitas dan Patofisiologi Hipertropi
Prostat
- Patogenesitas
Kelenjar prostat besarnya
sekitar buah walnut atau buah kenari yang terletak di bawah kandung kencing
yang mengelilingi uretra. Karena itu jika terjadi pembesaran prostat maka
uretra, saluran keluar kemih ini akan terganggu. dan akan menghambat aliran
urine.
Keadaan ini akan menyebakan
peningkatan tekanan intravesikal. Untuk dapat mengeluarkan urine, buli-buli
harus berkontraksi lebih kuat guna melawan tahanan tersebut. Kontraksi yang
terus-menerus ini akan menyebabkan perubahan anatomi dari buli-buli berupa
hipertrofi otot detrusor, trabekulasi, terbentuknya selula, sakula dan
divertikel buli-buli.
Perubahan struktur
buli-buli dirasakn oleh pasien sebagai keluhan pada saluran kemih sebelah bawah
atau lower urinary tract simptom (LUTS) yang dahulu dikenal dengan
gejala-gejala prostatimus.
Tekanan intravesikal yang
tinggi akan diteruskan keseluruh bagian buli-buli, tak terkecuali pada kedua
muara ureter. Tekanan pada kedua muara ureter ini dapat menimbulkan aliran
balik urine dari buli-buli ke ureter atau terjadi refluks vesikoureter. Keadaan
ini jika berlangsug terus akan mengakibatkan hidroureter, hidronefrosis bahkan
akhirnya dapat jatuh kedalam gagal ginjal.
- Patofisiologi
Biasanya ditemukan gejala
dan tanda obstruksi dan iritasi. Gejala dan tanda obstruksi jalan kemih berarti
penderita harus menunggu pada permulaan miksi (hesitency), miksi
terputus (intermittency), menetes pada akhir miksi (terminal
dribbling), pancaran miksi menjadi lemah, dan rasa belum puas sehabis
miksi. Gejala iritasi disebabkan hipersensitivitas otot detrusor berarti
bertambahnya frekwensi miksi (frequency), nokturia, miksi sulit ditahan
(urgency), dan nyeri pada waktu miksi (disuria).
Retensi kronik akan
menyebabkan refluks vesiko-ureter, hidroureter, hidronefrosis, dan gagal
ginjal. Proses kerusakan ginjal dipercepat bila terjadi infeksi. Pada waktu
miksi penderita harus selalu mengedan sehingga lama kelamaan akan menyebabkan
hernia atau hemoroid. Karena selalu terdapat sisa urine dapat terbentuk batu endapan
di dalam kandung kemih, yang akan menambah keluhan iritasi dan menimbulkan
hematuria.
Gambaran Klinik
Gejala HPJ bisa berupa:
- Simptom Obstruktif
·
Pancaran lemah (weak stram)
·
Mengedam (abdominal
straining)
·
Kencing harus menunggu baru
keluar (hesintency)
·
Kencing terputus
(intermittence)
·
Pengosongan tidak sempurna
(incomplate emptying )
·
Kencing menetes pada akhir
miksi (terminal dribbling)
2. Simptom
Iritatif
·
Nokturia lebih dari satu
kali
·
Frekuensi miksi bertambah
·
Urgensi
·
Disuria
·
Rasa tidak puas sehabis
miksi
Gejala-gejala tersebut di atas ini yang secara umum
disebut sebagai adanya prostatismus.
Faktor-faktor yang mewarnai bentuk manifestasi HPJ pada
seseorang tergantung pada :
- Pembesaran prostat dengan segala aspeknya.
- Sumbatan perkemihan.
- Prostatismus.
Tidak semua pembesaran
prostat menimbulkan keluhan atau simpton, namun sebaliknya prostat yang tidak
begitu besar dapat menimbulkan keluhan yang berat. Karena itu dapat dikatakan
bahwa tidak ada hubungan linear antara pembesaran prostat dengan beratnya
keluhan
2.6 Faktor Resiko Hipertropi Prostat
Perhatian dan perkembangan
gangguan dan beban kesehatan HPJ (hipertropi prostat jinak) akan semakin
meningkat dengan perkembangan pembangunan di Indonesia, terutama dikaitkan
dengan perpanjangan usia. Makin tua populasi makin tinggi kemungkinan untuk
meningkatnya kejadian HPJ.
Prevalensi
HPJ belum dapat dipastikan di Indonesia, diperkirakan 20-30% pria berusia di
atas 50 tahun mengalami gangguan miksi.
Faktor-faktor yang dapat digolongkan sebagai faktor risiko
HPJ adalah :
- Umur : dimulai setelah 50 tahun dan setelah umur 80 tahun sudah sekitar 80% besarnya risiko HPJ.
- Poligami : lebih banyak ditemukan pada lelaki beristri lebih dari satu. Penelitian eksperimental yang membuktikan pembesaran prostat hanya ditemukan pada manusia dan anjing.
- Makanan berhormon testoteron ; sepeerti daging kuda atau daging yang mengandung hormon pertumbuhan.
Tidak banyak faktor yang
telah teridentifikasi dan ditetapkan sebagai faktor risiko HPJ.
2.7 Epidemiologi
Hiperplasia
prostat merupakan penyakit pada pria tua dan jarang ditemukan sebelum usia 40
tahun. Prostat normal pada pria mengalami peningkatan ukuran yang lambat dari
lahir sampai pubertas, waktu itu ada peningkatan cepat dalam ukuran, yang
kontinyu sampai usia akhir 30-an. Pertengahan dasawarsa ke-5, prostat bisa
mengalami perubahan hyperplasia1.
Pada
usia lanjut beberapa pria mengalami pembesaran prostat benigna. Keadaan ini
dialami oleh 50% pria yang berusia 60 tahun dan kurang lebih 80% pria yang
berusia 80 tahun3.
2.8 Macam-macam Hipertrofi
a.
Metaplasi
Perubahan suatu jenis
jaringan dewasa atau yang telahberdirensiasi menjadi jaringan lain yang juga
dewasa.
b.
Metaplasi pada Epitel
Terjadi pada epitel yang
mengalami trauma terus menerus baik trauma mekanik maupun trauma yang bersifat
rangsangan yang menahun seperti radang.
c.
Metaplasi pada Jaringan
Ikat
Sel-sel mesenchym yang
masih primitive dapat berdiferensiasi menjadi setiap sel dalam deretan jaringan
mesenchymal.
d.
Displasi
Merupakan perubahan kearah
kemunduran pada sel dewasa.
e.
Anaplasi
Suatu perubahan kearah
kemunduran, terjadi pada sel hewan yang berubah menjadi sel yang bersifat lebih
primitive.
Comments
Post a Comment