makalah syirik
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Masyarakat di masa sekarang sangatlah beragam, dari tingkah
lakunya, sikap mereka terhadap agama mereka bahkan sikap mereka tehadap adat
istiadat mereka. Dalam masyarakat desa kebanyakan adat istiadat sangat dipegang
teguh, bahkan mereka melakukan apa saja ,yang penting adat mereka tidak hilang.
Namun sangat disayangkan kebanyakan adat isiadat ini melanggar pantangan agama.
Apalagi bagi masyarakat yang kurang pengetahuan agamanya, atau tidak mau tahu
menahu tentang agamanya. Sebenarnya agama islam ini sudah sangat sempurna tidak
perlu pelengkap dengan hal hal itu.
Misalnya mereka menyembelih hewan atau memberikan sesembahan
kepada selain allah adalah syirik. Syirik adalah pantangan dalam agama islam,
dan syirik adalah dosa yang sangat besar, bahkan adalah dosa yang tidak di
ampuni oleh allah. Namun kebanyakan mereka masih belum sadar, belum tahu atau
bahkan tidak mau tahu karena mereka ingin tetap mempertahankan adat mereka
meski agama melarang, mereka tidak ingin membuang warisan dari nenek moyang
mereka. Ini sangat memprihatikan sekali, apalagi mereka sudah mengetahui hal
ini, sudah sedikit banyak paham tentang hal ini.namun mereka masih saja
melakukannya hanya dengan dalih sosialah,
adatlah ataupun
sebagainya.naudzubillah.
Akibat yang lain berimbas pada anak-anak mereka yang
harusnya mereka didik disertai dengan pengenalan agama. Namun bagaimana mungkin
dapat mendidik anak anak mereka menjadi berakhlaq, kalau orang tuanya seperti
itu.
B.
Indentifikasi Masalah
Permasalahan
yang ada dalam warga masyarakat, yaitu banyaknya dari mereka yang belum
mengetahui bahkan tidak mengetahui apa itu tentang syirik. Banyak dari mereka
yang masih melakukan dan mempertahankan tradisi nenek moyangnya, seperti
memberi sesajen dan meminta sesuatu kepada selain Allah.
C.
Maksud dan Tujuan
1.
Tujuan
Umum
Untuk memberi tahukan kepada masyarakat
apa itu definisi syirik dan kriteria-kriteria dari syirik itu sendiri.
2.
Tujuan
Khusus
a.
Mengidenfikasi
masalah-masalah tentang syirik di masyarakat
b. Menerangkan apa saja tradisi yang
memeliki hubungan dengan syirik
c. Menerangkan bahaya-bahaya dari syirik
d. Melakukan pembinaan kepada masyarakat
yang masih melakukan syirik, dan
e. Mengajak masyarakat untuk menjahui diri
dari perbuatan syirik
Manfaat
Diharapkan
hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi:
1. Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan hasil laporan ini dapat
digunakan sebagai bahan kajian pustaka bagi kemajuan Ilmu Pengetahuan dan
penelitian lebih lanjut
2. Bagi Masyarakat
Dapat
dijadikan informasi dan wawasan bagi masyarat yang ingin meninggalkan budaya
syirik
3. Bagi Penulis
Menambah pengalaman dan saling
berbagi informasi tentang berdakwah dan syirik
D.
Waktu dan Tempat
Proses berdakwah dilakukan pada
hari minggu 8 juni 2014, tepatnya pada
pukul 08:00 sampai selesai di suro muncar kabupaten kepahiang
BAB II
LAPORAN
A.
Objek Dakwah
Sasaran
dakwah saya adalah tetangga yang ada disekitar lingkungan rumah saya, di desa
suro muncar kabupaten kepahiang.
B.
Permasalahan
Tradisi adat istiadat dan budaya yang mengandung kesyirikan
dan bid’ah yang dilakukan kebanyakan masyarakat sampai saat sekarang ini
dilakukan secara tertutup dan tersembunyi oleh orang perorang,yang telah
mengetahui atau belum mengetahui bahwa itu perbuatan syirik . Berbagai ragam
tradisi warisan budaya yang tidak sesuai syari’at islam yang berkembang di
masyarakat.
Banyak masyarakat melakukan secara langsung kadang-kadang
kita ikut didalam melakukan tradisi adat istiadat dan budaya dengan mencontoh
sebagaimana yang dilakukan oleh para orang tua pendahulu kita.
Sekiranya tradisi adat istiadat dan budaya tersebut tidak
ada kaitannya dengan keyakinan kaum muslimin yang notabene sebagai umat
terbesar di negeri ini, maka tidaklah menjadi persoalan .Namun karena tradisi
adat istiadat dan budaya yang mewarnai kehidupan banyak orang tersebut lebih
menonjolkan segi-segi ritual dan perwujudan dari pengakuan adanya suatu
kekuatan yang diakui keberadaannya selain Allah, maka masalahnya menjadi lain
dan serius untuk diperhatikan. Sebab didalam tradisi adat istiadat dan budaya tersebut
menyentuh hal-hal yang bersifat sangat sensitif yaitu adanya kandungan syirik
dan bid’ah di dalamnya yang sangat terlarang dalam islam.
Banyak contoh tradisi dimasyarakat islam di negeri ini
disemua tempat sebagai adat istiadat dan budaya warisan yang terus dilestarikan
keberadaannya meskipun di dalamnya penuh diliputi ritual-ritual syirik berupa
penyembahan kepada sesuatu selain Allah Yang Maha Pencipta.
C.
Metode Dakwah
Disini
metode yang gunakan dalam proses berdakwa
adalah dengan perpaduan dua metode yaitu dengan metode pendekatan dan
metode Al-mau’idzah Al-Hasanah, yang
sebagai mana memadukan antara kedua metode tersebut adalah supaya metode
pendekatan itu kita benar-benar untuk mendekati sasaran dakwah kita yang mana
sasarannya yaitu tetanga yang berada di sekitar rumah karena dengan pendekatan kita dapat berdakwah
dan butuh proses pendekatan terlebih
dahulu supaya kita bisa mendapatkan hasil yang baik dan mudah berkomunikasi
kepada mereka dan mudah mencapai tujuan dari hasil materi yang kita sampaikan.
Disini banyak cara menggunakan metode pendekatan diantaranya dengan menerangkan
dan menjelaskan tentang bahaya dari syirik dan juga dengan cara mengajak mereka
untuk menjauhi bahkan meninggalkan perbuatan syirik.
D.
Jadwal Dakwah
Dakwah yang lakukan tidak terjadwal dikarenakan
para tetangga sangat sulit ditemui karena kesibukan mereka masing-masing.
E.
Hasil Dakwah
Ternyata
masih banyak dari kalangan masyarakat yang tidak mengerti tentang apa itu
syirik, sehinggah masi banyak dari mereka yang melakukan syirik dalam keadaan
tahu dan tidak tahu. Dalam proses saya berdakwah, banyak dari mereka yang
bertanya apa saja bahaya dari syirik. Dan mereka setuju untuk meninggalkan
kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan syirik.
BAB III
ANALISA DAKWAH
A.
Faktor Pendukung Dakwah
1.
Tempat
Tempat saya berdakwah sangat mendukung
dalam proses berdakwah, karena tempat saya tepat berada di tengah-tengah hunian
warga.
2.
Objek
dakwah
Warga sangat mudah di ajak untuk mendengarkan dakwah
saya, karena warga sangat antusias tentang topik pembahasan saya.
B.
Faktor Penghambat Dakwah
1.
Waktu
Warga sulit untuk ditemui dan di
kumpulkan karena mereka semua jarang ada di rumah karena kesibukannya
masing-masing.
2.
Cuaca
Cuaca yang ekstrim membuat saya sulit
untuk menentukan waktu saya berdakwah.
3.
Alat
Saya berdakwah tidak menggunakan alat pengeras
suara, sehinggah banyak warga yang kurang mendengar suara saya.
BAB IV
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari hasil proses berdakwah, bahwa masih
banyak dari warga masyarakat yang masih melakukan perbuatan-perbuatan syirik,
baik yang berupa tradisi turun menurun maupun kegiatan yang sengaja dilakukan
untuk mendapatkan manfaat dirinya
sendiri dengan meminta atau menyembah kepada selain Allah SWT. Kegiatan tersebut telah dilakukan oleh masyarakat
sudak sejak lama dan turun menurun, oleh karena itu sangat pentingnya rasa
kepedulian kita terhadap sesama dengan memberikan informasi kepada masyarakat
baik Institusi
keagaman maupun secara individu atau perorangan.
B.
Saran
Bagi
warga masyarakat yang telah mengetahui tentang syirik dan bahaya-bahayanya,
supaya mereka mau dengan ikhlas meninggalkan semua tradisi-tradisi dan kegiatan
yang berhubungan syirik.
LAMPIRAN-LAMPIRAN
A.
Foto-foto
B.
Materi Dakwah
Definisi Syirik
Syaikh Muhammad bin Ali
Al-Wushobiy-hafizhahullah-
berkata,
"Syirik itu adalah seorang meyakini bahwa selain Allah ada yang
mencipta, memberi rezqi, menghidupkan, mematikan, mengetahui perkara gaib,
mengatur alam, atau seorang mengarahkan sejenis diantara jenis-jenis ibadah
kepada selain Allah, seperti ruku’, sujud, menyembelih, bernadzar, berdo’a, dan
lainnya. Syirik seperti ini mengeluarkan pelakunya dari agama".
Intinya, syirik adalah engkau menjadikan sesuatu
tandingan bagi Allah baik dalam perkara uluhiyyah, rububiyyah,
nama, dan sifat-sifat-Nya.
Adapun syirik dalam
perkara rububiyyah, seperti engkau meyakini bahwa ada pencipta,
pemberi rizki, yang menurunkan hujan, menghidupkan dan mematikan selain Allah,
mempercayai dukun alias paranormal. Syirik
dalam perkara uluhiyyah (ibadah), seperti berdo’a kepada selain
Allah, takut, cinta, berharap, bertawakkal kepada selain Allah, bernadzar,
menyembelih untuk selain Allah baik itu malaikat, nabi, orang shalih, jin,
bintang, pepohonan, bebatuan dan, pesta
laut, meminta kesembuhan, berkah, keselamatan kepada wali-wali,
lain-lain. Dari sini kita mengetahui kesalahan sebagian orang yang
mendefenisikan syirik terbatas hanya pada menyembah kepada berhala saja. Syirik dalam nama dan sifat-sifat-Nya,
seperti engkau meyakini bahwa ada selain Allah yang memiliki nama atau
sifat-sifat yang khusus bagi Allah. Maka engkau telah berbuat syirik dalam nama
dan sifat-sifat Allah.
Sebagian masyarakat kita juga tersebar kesalahan dalam
mendefenisikan syirik. Mereka menyatakan bahwa syirik adalah orang yang dengki
dan iri. Iri dan dengki bukan syirik, tapi dosa besar !!
Fenomena-fenomena
syirik di masyarakat
Ketika seluruh ibadah itu hanya diperuntukkan bagi Allah SWT
semata dan menolak ibadah yang diperuntukkan kepada selain Allah SWT, maka
inilah ajaran tauhid yang sebenarnya yang dibawa oleh para rasul, dari mulai
Adam as sampai kepada Muhammad saw. Sedangkan lawannya adalah menyekutukan
Allah SWT, yaitu memperuntukkan segala ibadah kepada selain Allah SWT di samping
kepada Allah, atau diperuntukkan hanya kepada selain Allah SWT. Inilah
perbuatan syirik yang pada umumnya dilakukan oleh orang-orang musyrik, yang
menimbulkan pertentangan antara seluruh rasul dengan umatnya.
Syirik kepada Allah SWT itu dapat dibagi menjadi dua bagian.
Pertama, syirik besar.
Yaitu, syirik yang dapat menafikan (meniadakan ketauhidan secara menyeluruh,
yang dapat mengeluarkan pelakunya dari agama Islam (murtad), dan mewajibkan
pelakunya kekal di dalam neraka, apabila dia mati dalam keadaan syirik, karena
Allah SWT tidak akan mengampuninya. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT :
Yang artinya, "Sesungguhnya Allah itu tidak akan
mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain (syirik) itu bagi
siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka
sesungguhnya ia telah berbuat dosa yang besar." (An-Nisaa': 48).
"Sesungguhnya Allah tidak
mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia. Dan Dia mengampuni dosa
selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang
mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat
sejauh-jauhnya." (An-Nisaa': 116).
"Sesungguhnya telah kafirlah
orang-orang yang berkata: 'Sesungguhnya Allah adalah al-Masih putra Maryam,'
padahal al-Masih (sendiri) berkata: 'Hai Bani Israel, sembahlah Allah Tuhanku
dan Tuhanmu.' Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah,
maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya adalah neraka,
tidaklah ada bagi orang-orang yang zalim itu satu penolong pun." (Al-Maidah: 72). Dan, firman-firman
Allah dalam ayat yang lain.
Dari Ibnu Mas'ud r.a. seraya berkata, Aku mendengar
Rasulullah saw. bersabda, "Orang yang mati dalam keadaan
mempersekutukan Allah dengan sesuatu, niscaya ia akan dimasukkan ke dalam
neraka." Dan aku (Ibnu Mas'ud) berkata, "Orang yang mati dalam
keadaan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu, niscaya dia akan dimasukkan
ke dalam surga." (HR Bukhari).
Dari Jabir bin Abdullah r.a. berkata, "Seseorang laki-laki
datang kepada Nabi saw., lalu bertanya, 'Wahai Rasulullah saw., apa yang
dimaksud dengan dua hal yang pasti dipenuhi?' Kemudian, Rasulullah saw.
Bersabda, "Barangsiapa mati dalam keadaan tidak menyekutukan Allah
dengan sesuatu, niscaya dia masuk surga. Dan barangsiapa mati dalam keadaan
mempersekutukan Allah dengan sesuatu, niscaya dia masuk neraka." (HR
Muslim).
Selain hadis tersebut di atas masih banyak hadis-hadis dan
keterangan lainnya yang mengandung peringatan Rasulullah saw. kepada umatnya
tentang syirik dan beberapa perantaranya. Rasulullah saw. melarang seseorang
untuk melakukan tindakan yang berlebihan dalam mengagungkan makhluk, menjadikan
kuburan sebagai masjid dan tempat berkunjung (ziyarah), dan beliau melarang
membuat bangunan di atas kuburan, menyalakan lampu di atasnya, serta beliau pun
menjelaskan tentang ziarah kubur yang disyariatkan sebagaimana beliau pun telah
menjelaskan tawassul (membuat perantara) yang disyariatkan, dan
menjelaskan pula tawassul yang bid'ah (diada-adakan) dan beliau pun
melarangnya.
Di bawah ini akan dikemukakan sejumlah hadis Nabi saw. yang
melarang perbuatan syirik dan wasilah-wasilahnya:
- Dari Umar r.a., Rasulullah saw. telah bersabda, "Janganlah kalian menyanjungku seperti menyanjungnya orang-orang Nasrani kepada putra Maryam (Nabi Isa a.s.), karena aku ini hanya seorang hamba, maka katakanlah, 'Hamba Allah dan rasul-Nya'."
- Dari Anas r.a. bahwa orang-orang telah berkata, "Wahai Rasulullah, wahai orang yang terbaik di antara kita dan putra terbaik di antara kita, dan wahai tuan kami dan putra tuan kami, maka Rasulullah saw. Bersabda, "Wahai manusia, katakanlah olehmu dengan perkataan atau dengan sebagian perkataanmu, dan janganlah kalian diperdaya oleh setan. Aku ini adalah Muhammad, seorang hamba Allah dan Rasul-Nya dan aku tidak senang kalian mengagungkanku melebihi kedudukanku, yaitu kedudukan yang telah diberikan oleh Allah Azza wa Jalla." (HR Ahmad, Nasa'i dan Ibnu Hibban).
- Dari Aisyah r.a. bahwa Ummu Salamah menceritakan kepada Rasulullah saw. tentang sebuah gereja yang dilihatnya di negeri Habsyi yang diberi nama "Maria", lalu dia pun menceritakan tentang gambar yang dilihatnya yang ada di dalamnya. Kemudian, Rasulullah saw. bersabda, "Mereka itu adalah kaum yang apabila ada seorang hamba atau seorang lelaki yang saleh meninggal dari kalangan mereka, maka mereka akan membangun sebuah masjid di atas kuburannya dan mereka akan melukisnya di dalam masjid tersebut. Mereka itu adalah makhluk yang paling buruk di sisi Allah SWT." (HR Bukhari).
- Dari 'Aisyah r.a. berkata, "Ketika ayat Alquran diturunkan kepada Rasulullah saw., beliau menutupi mukanya dengan telapak tangannya, apabila tidak jelas, maka beliau membuka mukanya, lalu beliau bersabda sebagai berikut: "Laknat Allah bagi orang-orang Yahudi dan Nasrani, di mana mereka menjadikan kuburan-kuburan para nabinya sebagai masjid." (HR Bukhari). Dalam hal ini beliau mengingatkan apa yang telah diperbuat oleh mereka.
- Dari Abi Martsad al-Ghanawi r.a. berkata, Rasulullah saw. telah bersabda, "Janganlah kamu melakukan salat sambil menghadap ke kuburan dan janganlah kamu duduk di atasnya." (HR Muslim).
- Dari Jabir r.a. berkata, "Nabi saw. melarang menangisi kuburan, mendudukinya, dan mendirikan bangunan di atasnya." (HR Muslim). Dan hadis-hadis yang lain.
Kedua, syirik kecil. Syirik yang ini
tidak menyebabkan pelakunya keluar dari agama, tetapi dapat mengurangi pahala,
dan terkadang dapat menghapuskan pahala amal kebaikan, seperti perbuatan riya.
Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw., "Sesuatu yang paling aku
khawatirkan akan menimpa kalian adalah syirik kecil," para sahabat
bertanya: "Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan syirik kecil itu?
Beliau menjawab, "Riya'." Demikian juga halnya dengan sumpah
atas nama selain Allah, sumpah dengan menyebut bapak-bapaknya, ibu-ibunya,
anak-anaknya, atau sumpah dengan atas nama kepercayaan, dan lain-lain. Dari
Abdullah bin Amar r.a., Rasulullah saw. telah bersabda, "Aku bertemu
dengan Umar bin Khaththab yang bermaksud menaiki binatang tunggangannya sambil
bersumpah dengan menyebut nama bapaknya, lalu Rasulullah saw. bersabda,
"Ingatlah, sesungguhnya Allah melarang kalian untuk bersumpah dengan
menyebut bapak-bapakmu. Barangsiapa yang hendak bersumpah, maka bersumpahklah
dengan menyebut nama Allah atau diam sama sekali." (HR Bukhari).
Meskipun peringatan yang terdapat dalam hadis-hadis Nabi
saw. itu sangat keras, tetapi banyak sekali kaum muslimin yang melakukan
sesuatu yang dilarang oleh Allah SWT dan nabi-Nya. Dalam kenyataannya, banyak
kaum muslimin yang banyak melakukan berbagai macam perbuatan syirik, sehingga
kemusyrikan dan bid'ah sedemikian rupa dilakukan secara teratur seakan-akan hal
tersebut merupakan perbuatan yang bersumber dari agama. Padahal, memperlihatkan
ketauhidan dan kemurnian beragama itu hanya kepada Allah yang merupakan sesuatu
yang telah diperintahkan oleh Allah, dan Rasul-Nya telah menjelaskannya sebagai
sesuatu yang asing (mengada-ada). Orang yang berpegang teguh terhadap perintah
tersebut dengan mencegah kemusyrikan dan perbuatan bid'ah, maka dia akan berhadapan
dengan orang-orang bodoh dan orang-orang musyrik?dan tidak ada daya dan
kekuatan selain atas pertolongan Allah?di mana mereka (orang-orang bodoh dan
orang-orang musyrik) ini merupakan orang-orang yang menyebarkan kebencian
kepada orang-orang yang saleh dan berpaling dari agama yang benar. Dengan
demikian, kemungkaran di hadapan orang-orang yang sesat dianggap sebagai
perbuatan baik, dan perbuatan yang baik dianggap sebagai perbuatan mungkar.
Tidak ada daya dan kekuatan selain atas pertolongan Allah SWT.
Di antara perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan
syariat yang dilakukan oleh umat dewasa ini di antaranya:
1. Mohon
dikabulkan doanya dan meminta syafaat dari Rasulullah saw. ketika berada di
makamnya.
Syekh Ibnu Taimiyyah berkata, "Di antara manusia itu
ada yang menafsirkan firman Allah SWT, 'Sesungguhnya jikalau mereka ketika
menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan rasul
pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha
Penerima tobat lagi Maha Penyayang.' (An-Nisaa': 64). Mereka menafsirkannya,
'Jika kami memohonkan ampun dari Rasul-Nya setelah kematiannya, maka kami
bagaikan orang-orang yang memohonkan ampun dari sahabatnya.' Padahal, dengan
melakukan hal tersebut mereka telah bertentangan dengan ketentuan yang
didasarkan kepada kesepakatan para sahabat, tabi'in, dan segenap kaum muslimin.
Karena, tidak seorang pun dari mereka yang memohonkan pertolongan kepada Nabi
saw. setelah beliau meninggal, dan meminta sesuatu darinya.
Demikian juga, tidak ada seorang pun dari imam-imam kaum
muslimin yang menjelaskan hal tersebut dalam kitab-kitabnya, yang menjelaskan
bahwa perbuatan tersebut merupakan perintah para malaikat, para nabi, dan
orang-orang saleh, yang apabila mereka meninggal dianjurkan untuk mengajukan
permohonan di atas kuburan dan tempat mereka. Memohon kepada patung-patung
merupakan jenis kemusyrikan yang sangat besar yang dilakukan oleh kaum
musyrikin selain ahli kitab (Yahudi dan Nasrani). Sedangkan dalam bid'ah yang
dilakukan oleh Ahli Kitab dan kaum muslimin yang melakukan kemusyrikan dan
ibadah kepada selain Allah, merupakan perbuatan yang tidak diperintahkan oleh
Allah."
2. Mengistimewakan
berdoa dan beribadah di makam para nabi.
Orang yang melakukan perbuatan tersebut menyakini bahwa
berdoa di kuburan para nabi itu pasti akan dikabulkan, atau beranggapan ahwa
berdoa di kuburan para nabi itu lebih utama dibandingkan dengan berdoa di
masjid-masjid dan di rumah-rumah, dan salat yang dilakukan di kuburan para nabi
pasti akan diterima. Padahal, perbuatan tersebut termasuk kemungkaran dan bid'ah
menurut kesepakatan para imam muslimin, dan perbuatan tersebut termasuk
perbuatan yang diharamkan (dilarang).
3. Meminyaki
makam dan menciumnya.
Syekh Ibnu Taimiyyah r.a. berkata, "Para ulama salaf telah
sepakat bahwa tidak boleh memohon keselamatan dari kuburan para nabi, dan tidak
dianggap baik melakukan salat di sisinya, dan tidak boleh memohon dikabulkan
doa kepadanya. Karena, perbuatan tersebut termasuk dari sebab-sebab yang
membawa kepada kemusyrikan dan sama dengan beribadah kepada berhala.
Sebagaimana Allah SWT berfirman, 'Dan mereka berkata: 'Dan janganlah
sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula
sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwa'
yaghuts, ya'uq, dan nashr.' (Nuh: 23). Sekelompok ulama salaf
berpendapat, mereka itu adalah sekelompok orang saleh dari kaum Nuh a.s., yaitu
ketika mereka meninggal, maka orang-orang beritikaf di atas kuburannya, lalu
mereka membentuk patung-patungnya yang kemudian menyembahnya."
4. Memohon
keberkahan dari orang-orang saleh dan mengagungkan mereka secara
berlebih-lebihan.
Perbuatan tersebut ditunjukkan dengan mencium sesuatu yang
berkaitan dengan orang-orang saleh, baik mencium badannya, pakaiannya, benda
peninggalannya, mengagungkan kuburannya setelah meninggalnya dengan cara itikaf
di atas kuburannya, melakukan salat di sisinya, berdoa di hadapannya, bersusah
payah mengunjunginya, mengelilinginya, menyalakan lampu di atasnya,
meminyakinya dan menciumnya. Perbuatan yang paling tercela dari sekian
perbuatan itu adalah meminta untuk dikabulkan doa kepada mereka, padahal mereka
telah meninggal, dan memohon pertolongan dan dicukupi segala kebutuhan kepada
mereka, seluruh perbuatan tersebut termasuk perbuatan munkar yang keji.
5. Memohon
keberkahan kepada pohon, batu, dan benda-benda lainnya.
Perbuatan tersebut dilakukan, baik dengan cara beritikaf,
melakukan ibadah di sisinya, atau mengalungkan sobekan kain kepadanya. Semua
perbuatan tersebut termasuk perbuatan yang tidak boleh dilakukan oleh seseorang
muslim, karena perbuatan tersebut bersumber dari ajaran agama orang-orang
musyrik dan bukan bersumber dari ajaran agama Islam. Syekh Ibnu Taimiyyah
berkata, "Adapun pohon, batu, mata air, dan lain-lain termasuk sesuatu
yang ditakuti oleh sebagian orang-orang awam, sehingga mereka biasa
mengalungkan sobekan kain dan lain sebagainya. Maka, perbuatan tersebut
termasuk perbuatan munkar dan bid'ah yang biasa dilakukan oleh orang-orang
jahiliyah, dan sebagai perbuatan menyekutukan Allah SWT." (Biko).
Bahaya-bahaya dari perbuatan Syirik
- Syirik akan Menghancurkan Segala Amalan
Banyak diantara kaum muslimin, karena jauhnya mereka dari
ilmu dan agama mereka, sehingga mereka melakukan perbuatan kesyirikan yang
mereka anggap sepeleh, bahkan memandangnya sebagai suatu perbuatan yang baik.
Mereka tidak sadar bahwa syirik dapat menghapuskan
segala amalan mereka. Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman
mengancam para nabi -Shollallahu ‘alaihim wasallam- andai ia berbuat
syirik,
"Itulah petunjuk Allah yang
dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya diantara
hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka menyekutukan Allah niscaya lenyaplah dari
mereka amalan yang telah mereka kerjakan." (QS.Al-An’am : 88).
Dalam Surat Az-Zumar Allah SWT juga menegaskan bahwa Syirik dapat menghapus amalan seseorang;
"Dan sesungguhnya telah
diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi) sebelummu jika kamu baerbuat syirik
niscaya akan terhapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang
merugi".
(QS.Az-Zumar :65 )
b. Pelakunya
Semakin Jauh dari Allah
Syirik akan membuat
seseorang jauh dari Allah dengan sejauh-jauhnya. Firman Allah -Ta’ala-,
"Dan barang siapa yang
menyekutukan Allah maka seolah-olah ia jatuh dari langit kemudian ia disambar
oleh burung atau diterbangkan oleh angin ke tempat yang jauh". (QS. Al-Hajj:31 )
Ahli Tafsir Jazirah Arab, Syaikh
Abdur Rahman As-Sa’diy-rahimahullah- berkata, "Barang siapa yang meninggalkan keimanan,
maka ia ibarat sesuatu yang jatuh dari langit, besar kemungkinan ia mendapatkan
penyakit, dan bala’; entah ia disambar burung, lalu ia tercabik-cabik
berantakan. Demikian seorang yang berbuat kesyirikan, jika ia tak mau berpegang
dengan keimanan, maka ia akan disambar oleh setan dari segala sisi, setan akan
mencabik-cabiknya, dan akan menghilangkan agama dan dunianya".
Orang yang berbuat syirik akan semakin tersesat hidupnya di
dunia ini. Adakah kesesatan yang lebih
besar daripada kesesatan seseorang yang menganggap dirinya sedang melakukan
pendekatan kepada Allah, namun pada hakikatnya ia semakin terlempar jauh dari
Allah. Dia mengharapkan derajatnya naik ke surga, padahal hakikatnya ia
tengah turun ke jurang neraka yang paling bawa sebagai tempat kembali yang
paling buruk? Mereka ini laksana kaum yang dikabarkan oleh Allah,
"Ingatlah hanya kepunyaan Allah
lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung
selain Allah (berkata), "Kami tidak menyembah mereka, melainkan supaya mereka (sesembahan) itu
mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya". Sesungguhnya Allah
akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan.
Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat
ingkar".
(QS. Az-Zumar : 3 ).
Oleh karena itu, kesyirikan telah menutup mata mereka dari al-haq.
Mereka memandang perbuatan-perbuatan syirik sebagai perbuatan yang baik.
Mereka berusaha melestarikan syirik dengan alasan budaya sehingga muncullah
istilah "Cagar Budaya".
Padahal amalan yang disertai syirik –walau dianggap baik- akan dibinasakan oleh
Allah; tak berguna bagi pelakunya, bahkan merugikan pelakunya. Allah-Subhanahu
wa Ta’la- telah kabarkan,
"Katakanlah (wahai Muhammad)
apakah akan kami kabarkan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi
amalannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan
dunia ini. Sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah perbuat sebaik-baiknya
mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Rob mereka dan (kufur
terhadap) perjumpaan (dengan Dia) maka terhapuslah amalan-amalan mereka dan
kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari
kiamat".
(QS. Al-Kahfi: 103-104).
Begitulah kalau seseorang sudah melampaui batas dirinya
sebagai makhluk. Ia akan hidup di dalam kegelapan-kegelapan. Perhatikanlah
firman Allah -Subhanahu wa Ta’la-,
Allah
-Subhanahu wa Ta’la- juga berfirman,
"Dan apakah orang yang sudah
mati kemudian kami hidupkan dan kami berikan kepadanya cahaya yang terang yang
dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah manusia, serupa dengan
orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat
keluar dari padanya? Demikianlah kami
jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka
kerjakan".
(QS. Al-An’am:122 ).
Kita berlindung kepada Allah dari kebutaan hati, karena hati
yang buta akan melihat tauhid sebagai syirik, sunnah sebagai bid’ah, sesuatu
yang ma’ruf sebagai kemungkaran.
c. Dosa yang
Tidak Terampuni
Sebab syirik adalah dosa yang paling besar di sisi
Allah, tidak dimaafkan di hari
kiamat, jika pelakunya tidak bertaubat darinya sebelum ajal tiba. Karena Allah -Ta’ala-
telah menyatakan di dalam kitabnya yang mulia,
"Sesungguhnya Allah tidak akan
mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni selain dari dosa syirik itu bagi
siapa yang dikehendakinya". (QS.An-Nisa
: 48 dan 116)
Ahli Tafsir Negeri Yaman, Muhammad
bin Ali Asy-Syaukaniy-rahimahullah- berkata Fathul
Qodir (1/717), "Tak ada khilaf di antara kaum muslimin bahwa
seorang yang berbuat syirik, jika ia mati di atas kesyirikan, maka ia bukanlah
termasuk orang berhak mendapatkan ampunan yang Allah anugrahkan kepada orang
yang tidak berbuat syirik sebagaimana yang dituntut oleh kehendak-Nya".
Ayat ini menunjukkan betapa besarnya dosa syirik ini,
hingga Allah -Ta’ala- tidak mau mengampuninya. Padahal Allah -Ta’ala-
memiliki ampunan yang sangat luas, rahmat dan kasih sayang yang paling
sempurna; amat mencintai hamba-hamba-Nya, melebihi cintanya seorang hamba
kepada dirinya sendir!! Sekalipun demikian, Allah -Ta’ala- tidak akan
mengampuni dosa pelaku kesyirikan. Kenapa? Karena mereka telah berbuat zholim
kepada Allah.
Mereka tinggal di bumi Allah,mereka makan dari rizki Allah;
mereka hidup dengan nikmat-nikmat Allah; Semua fasilitas-fasilitas yang mereka
butuhkan, semua itu datangnya dari sisi Allah. Namun mereka tidak mau beribadah
hanya kepada Allah -Ta’ala- semata. Mereka justru beribadah, bersyukur
dan meminta kepada mahluk yang tidak memiliki apapun, walaupun hanya seekor
lalat.
Oleh karena itu, Luqman berwasiat kepada anak-anaknyaagar
menjauhi kesyirikan karena syirik merupakan kezholiman yang
terbesar.sebagaimana firman Allah -Ta’ala-,
"Dan (ingatlah)ketika Luqman berkata kepada anaknya
diwaktu ia memberi pelajaran kepadanya,"Hai anakku janganlah kamu menyekutukan
Allah,sesungguhnya menyukutukan (Allah)adalah benar-benar kezholiman yang
besar"
(QS. Luqman:13 ).
Sahabat
Abdullah bin Mas’ud -radhiyallahu ‘anhu- berkata,
"Aku bertanya kepada Nabi
-Shollallahu ‘alaihi wasallam- dosa apakah yang paling besar di sisi Allah?
Beliau menjawab: "Kamu menjadikan
sekutu bagi Allah, padahal Dia yang telah mencipatakan kamu". Aku
berkata: "Itu memang dosa yang sangat besar lalu apa lagi? Beliau pun
menjawab: "Kamu membunuh anakmu karena takut ia akan makan
bersamamu". Aku bertanya: "Lalu apa lagi?" beliau menjawab:
"Kamu berzina dengan istri tetanggamu". [HR.Al-Bukhariy dan Muslim].
Nash-nash ini menunjukkan kepada kita bahwa
tidak ada dosa yang lebih besar daripada syirik (menyekutukan Allah)
d. Diharamkan
Surga bagi Pelaku Kesyirikan
Masuk ke dalam surga adalah harapan bagi setiap orang. Tidak
ada satu hati pun, kecuali pasti merindukan masuk ke dalamnya. Tiada satu
telingan pun yang bosan mendengar kabar-kabarnya. Karenanya, betapa celakanya
jika ada orang yang diharamkan untuk merasakan kenikmatan dan keindahan surga.
Itulah pelaku kesyirikan; Allah haramkan surga bagi mereka sebagai azab yang
paling menghinakan disebabkan ke-syirik-an mereka. Allah berfirman,
"Sesungguhnya orang yang
mempersekutukan Allah, maka pasti Allah akan mengharamkan baginya surga dan
tempat kembalinya ialah neraka tidalah ada bagi orang-orang yang dholim itu
seorang penolong pun". (QS.Al-Maidah
:72 ).
Al-Allamah Ibnu Qoyyim
Al-Jauziyyah-rahimahullah- berkata dalam Al-Jawab Al-Kafiy (hal.89), "Tatkala
kesyirikan kepada Allah meniadakan maksud (penciptaan) ini, maka syirik menjadi
dosa besar yang paling besar secara mutlak. Allah telah mengharamkan surga bagi
setiap pelaku syirik; Dia halalkan darah, harta, dan keluarganya bagi orang
yang bertauhid; Allah halalkan orang bertauhid menjadikan mereka sebagai
budaknya, karena mereka tidak melaksanakan tugas peribadahan kepada Allah.
Allah –Subhanahu- enggan untuk menerima amalan seorang yang berbuat syirik;
enggan menerima syafa’at atau menerima do’a mereka di akhirat; enggan menerima
ma’af mereka".
Allah -Ta’ala- telah menghikayatkan di dalam
Al-Qur’an tentang orang-orang yang diharamkan untuk merasakan kenikmatan di
dalam surga "Dan penduduk neraka memanggil penduduk surga, tuangkanlah
air kepada kami atau dari apa-apa yang Allah telah rezkikan kepada kalian.
Penduduk surga berkata: "Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya
bagi orang-orang yang kafir" .(QS.Al-A’raf :50 ).
Comments
Post a Comment