makalah Birrul Walidain
1. PENGERTIAN BIRRUL WALIDAIN
Al Birr yaitu kebaikan, berdasarkan
sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam (artinya) : "Al Birr adalah baiknya akhlaq". (Diriwayatkan oleh
Muslim dalam Shahihnya Nomor 1794). Al Birr merupakan haq kedua orang tua dan
kerabat dekat, lawan dari Al ‘Uquuq yaitu kejelekan dan menyia-nyiakan haq.
"Al Birr adalah mentaati kedua orang
tua didalam semua apa yang mereka perintahkan kepada engkau, selama tidak
bermaksiat kepada Allah, dan Al‘Uquuq dan menjauhi mereka dan tidak berbuat
baik kepadanya." (Disebutkan dalam kitab Ad Durul Mantsur 5/259)
Berkata Urwah bin Zubair mudah-mudahan Allah meridhoi mereka berdua tentang
firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala (artinya): "Dan
rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan."
(QS. Al Isra’ : 24). Yaitu: "Jangan
sampai mereka berdua tidak ditaati sedikitpun". (Ad Darul Mantsur
5/259) Berkata Imam Al Qurtubi mudah-mudahan Allah merahmatinya: "Termasuk ‘Uquuq (durhaka) kepada orang
tua adalah menyelisihi/ menentang keinginan-keinginan mereka dari
(perkara-perkara) yang mubah, sebagaimana Al Birr (berbakti) kepada keduanya
adalah memenuhi apa yang menjadi keinginan mereka. Oleh karena itu, apabila
salah satu atau keduanya memerintahkan sesuatu, wajib engkau mentaatinya selama
hal itu bukan perkara maksiat, walaupun apa yang mereka perintahkan bukan
perkara wajib tapi mubah pada asalnya, demikian pula apabila apa yang mereka
perintahkan adalah perkara yang mandub (disukai/ disunnahkan).” (Al Jami’
Li Ahkamil Qur’an Jil 6 hal 238).
Berkata Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah
mudah-mudahan Allah merahmatinya: Berkata Abu Bakr di dalam kitab Zaadul
Musaafir "Barangsiapa yang
menyebabkan kedua orang tuanya marah dan menangis, maka dia harus mengembalikan
keduanya agar dia bisa tertawa (senang) kembali". (Ghadzaul Al Baab
1/382).
Istilah birrul walidain terdiri dari kata al-birru dan
al-walidain. Al-birru artinya kebajikan dan al-walidain artinya dua orang tua
atau ibu dan bapak. Jadi, birrul walidain adalah berbuat kebajikan kepada kedua
orang tua. Semakna dengan birrul walidain, Al-Qur’an menggunakan istilah ihsan,
seperti yang terdapat dalam surat Al-isra’ ayat 23 : “Dan TuhanMu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain
Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.
Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut
dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada
keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah
kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra’ :23)
2. KEUTAMAAN BIRRUL WALIDAIN
1.
Termasuk Amalan Yang
Paling Mulia
Dari Abdullah bin
Mas’ud mudah-mudahan Allah meridhoinya dia berkata : Saya bertanya kepada
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam: Apakah amalan yang paling dicintai oleh
Allah?, Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam: "Sholat tepat
pada waktunya", Saya bertanya : Kemudian apa lagi?, Bersabada Rasulullah
Shalallahu ‘Alaihi Wasallam "Berbuat baik kepada kedua orang tua".
Saya bertanya lagi : Lalu apa lagi?, Maka Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam
bersabda : "Berjihad di jalan Allah". (Diriwayatkan
oleh Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya).
2. Kedua
: Merupakan Salah Satu Sebab-Sebab Diampuninya Dosa
Allah
Subhanahu Wa Ta’ala berfirman (artinya): "Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang
ibu bapaknya….", hingga akhir ayat berikutnya : "Mereka itulah
orang-orang yang kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka
kerjakan dan kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni
surga. Sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka."
(QS. Al Ahqaf 15-16)
Diriwayatkan oleh ibnu
Umar mudah-mudahan Allah meridhoi keduanya bahwasannya seorang laki-laki datang
kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dan berkata : Wahai Rasulullah sesungguhnya
telah menimpa kepadaku dosa yang besar, apakah masih ada pintu taubat bagi
saya?, Maka bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : "Apakah
Ibumu masih hidup?", berkata dia : tidak. Bersabda beliau Shalallahu
‘Alaihi Wasallam : "Kalau bibimu masih ada?", dia berkata :
"Ya" . Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam :
"Berbuat baiklah padanya". (Diriwayatkan
oleh Tirmidzi didalam Jami’nya dan berkata Al ‘Arnauth : Perawi-perawinya
tsiqoh. Dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Al Hakim. Lihat Jaami’ul Ushul (1/
406).
3.
Termasuk Sebab Masuknya
Seseorang Ke Surga
Dari Abu Hurairah,
mudah-mudahan Allah meridhoinya, dia berkata : Saya mendengar Rasulullah
Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: "Celakalah dia, celakalah dia",
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam ditanya : Siapa wahai Rasulullah?,
Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : "Orang yang menjumpai
salah satu atau kedua orang tuanya dalam usia lanjut kemudian dia tidak masuk
surga". (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam
Shahihnya No. 1758, ringkasan).
Dari Mu’awiyah bin
Jaahimah mudah-mudahan Allah meridhoi mereka berdua, Bahwasannya Jaahimah
datang kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam kemudian berkata :
"Wahai Rasulullah, saya ingin (berangkat) untuk berperang, dan saya datang
(ke sini) untuk minta nasehat pada anda. Maka Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi
Wasallam bersabda : "Apakah kamu masih memiliki Ibu?". Berkata dia :
"Ya". Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam :
"Tetaplah dengannya karena sesungguhnya surga itu dibawah telapak
kakinya". (Hadits Hasan diriwayatkan oleh
Nasa’i dalam Sunannya dan Ahmad dalam Musnadnya, Hadits ini Shohih. (Lihat Shahihul
Jaami No. 1248)
4.
Merupakan Sebab
keridhoan Allah
Sebagaimana
hadits yang terdahulu "Keridhoan
Allah ada pada keridhoan kedua orang tua dan kemurkaan-Nya ada pada kemurkaan
kedua orang tua".
5.
Merupakan Sebab
Bertambahnya Umur
Diantaranya hadist
yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik mudah-mudahan Allah meridhoinya, dia
berkata, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : "Barangsiapa yang suka Allah besarkan rizkinya dan Allah panjangkan
umurnya, maka hendaklah dia menyambung silaturrahim".
6.
Merupakan Sebab
Barokahnya Rizki
3.
Hak-Hak
Yang Wajib Dilaksanakan Semasa Orang Tua Masih Hidup
1. Mentaati
Mereka Selama Tidak Mendurhakai Allah
Mentaati
kedua orang tua hukumnya wajib atas setiap Muslim. Haram hukumnya mendurhakai
keduanya. Tidak diperbolehkan sedikit pun mendurhakai mereka berdua kecuali
apabila mereka menyuruh untuk menyekutukan Allah atau mendurhakai-Nya. Allah
Subhanahu wa TA'ala berfirman: "Dan
jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada
pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu
mengikuti keduanya..."
(QS. Luqman: 15) Tidak boleh mentaati makhluk untuk mendurhakai Allah,
Penciptanya, sebagaimana sabda Rasululah shallallahu 'alaihi wa sallam: "Tidak ada ketaatan untuk mendurhakai
Allah. Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam melakukan kebaikan." (HR.
Bukhari no. 4340, 7145, 7257, dan Muslim no. 1840, dari Ali radhiyallahu
'anhu). Adapun jika bukan dalam
perkara yang mendurhakai Allah, wajib mentaati kedua orang tua selamanya dan
ini termasuk perkara yang paling diwajibkan. Oleh karena itu, seorang Muslim
tidak boleh mendurhakai apa saja yang diperintahkan oleh kedua orang tua.
2. Berbakti
dan Merendahkan Diri di Hadapan Kedua Orang Tua Allah Subhanahu wa Ta'ala juga
berfirman:
"Kami perintahkan
kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tua ibu bapaknya..."
(QS. Al-Ahqaaf: 15) "Sembahlah Allah
dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah
kepada dua orang tua ibu bapak..."
(QS. An-Nisaa': 36) Perintah berbuat baik ini lebih ditegaskan jika usia kedua
orang tua semakin tua dan lanjut hingga kondisi mereka melemah dan sangat membutuhkan
bantuan dan perhatian dari anaknya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Dan Rabb-mu telah memerintahkan supaya
kami jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu
bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau
kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali
janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah kamu
membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan
rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan
ucapkanlah: 'Wahai, Rabb-ku, kasihilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah
mendidik aku waktu kecil.'" (QS. Al-Israa': 23-24) Di dalam sebuah
hadits, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sungguh merugi, sungguh merugi, dan sungguh merugi orang yang
mendapatkan kedua orang tuanya yang sudah renta atau salah seorang dari mereka
kemudian hal itu tidak dapat memasukkannya ke dalam Surga." (HR.
Muslim no. 2551, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
Di
antara bakti terhadap kedua orang tua adalah menjauhkan ucapan dan perbuatan
yang dapat menyakiti kedua orang tua, walaupun dengan isyarat atau dengan
ucapan 'ah'. Termasuk berbakti kepada keduanya ialah senantiasa membuat mereka
ridha dengan melakukan apa yang mereka inginkan, selama hal itu tidak
mendurhakai Allah Subhanahu wa Ta'ala, sebagaimana yang telah disebutkan.
3. Merendahkan
Diri Di Hadapan Keduanya
Tidak
boleh mengeraskan suara melebihi suara kedua orang tua atau dihadapan mereka
berdua. Tidak boleh juga berjalan di depan mereka, masuk dan keluar mendahului
mereka, atau mendahului urusan mereka berdua. Rendahkanlah diri di hadapan
mereka berdua dengan cara mendahulukan segala urusan mereka, membentangkan
dipan untuk mereka, mempersilakan mereka duduk di tempat yang empuk,
menyodorkan bantal, janganlah mendului makan dan minum, dan lain sebagainya.
4. Berbicara
Dengan Lembut Di Hadapan Mereka
Berbicara
dengan lembut merupakan kesempurnaan bakti kepada kedua orang tua dan
merendahkan diri di hadapan mereka, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa
Ta'ala: "...Maka sekali-kali
janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah kamu
membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia."
(QS. Al-Israa': 23) Oleh karena itu, berbicaralah kepada mereka berdua dengan
ucapan yang lemah lembut dan baik serta dengan lafazh yang bagus.
5. Menyediakan
Makanan Untuk Mereka
Menyediakan
makanan juga termasuk bakti kepada kedua orang tua,
terutama jika ia
memberi mereka makan dari hasil jerih payah sendiri. Jadi,
sepantasnya
disediakan untuk mereka makanan dan minuman terbaik dan
lebih
mendahulukan mereka berdua daripada dirinya, anaknya, dan
istrinya.
6. Meminta
Izin Kepada Mereka Sebelum Berjihad dan Pergi Untuk Urusan Lainnya
Izin
kepada orang tua diperlukan untuk jihad yang belum ditentukan. Seorang laki-laki datang menghadap
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan bertanya: "Ya, Raslullah,
apakah aku boleh ikut berjihad?" Beliau balik bertanya: "Apakah kamu
masih mempunyai kedua orang tua?" Laki-laki itu menjawab:
"Masih." Beliau bersabda: "Berjihadlah (dengan cara berbakti)
kepada keduanya." (HR. Bukhari no. 3004, 5972, dan Muslim no. 2549,
dari Ibnu 'Amr radhiyallahu 'anhu)
Seorang laki-laki
mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata: "Aku
datang membai'atmu untuk hijrah dan tinggalkan kedua orang tuaku menangisi
(kepergianku). Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Pulanglah dan buatlah mereka tertawa sebagaimana kamu telah membuat
mereka menangis." (HR. Abu Dawud no.
2528, an- Nasa-i, VII/143, Ibnu Majah no. 2782, dari Ibnu 'Amr radhiyallahu
'anhu. Lihat kitab Shahiih Abi Dawud no. 2205) Seorang laki-laki hijrah dari negeri Yaman lalu Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam bertanya kepadanya: "Apakah kamu masih mempunyai kerabat
di Yaman?" Laki-laki itu menjawab: "Masih, yaitu kedua orang
tuaku." Beliau kembali bertanya: "Apakah mereka berdua
mengizinkanmu?" Laki-laki itu menjawab: "Tidak." Lantas, Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Kembalilah kamu kepada mereka dan
mintalah izin dari mereka. Jika mereka mengizinkan, maka kamu boleh ikut
berjihad, namun jika tidak, maka berbaktilah kepada keduanya." (HR.
Ahmad, III/76; Abu Dawud no. 2530; al-Hakim, II/103, 103, dan ia menshahihkannya
serta disetujui oleh Adz-Dzahabi dari Abu Sa'id radhiyallahu 'anhu. Lihat kitab
Shahihh Abu Dawud no. 2207) Seorang
laki-laki berkata kepada beliau: "Aku membai'at anda untuk berhijrah dan
berjihad semata-mata hanya mengharapkan pahala dari Allah Subhanahu wa
Ta'ala." Beliau bersabda kepada laki-laki tersebut: "Apakah salah
satu kedua orang tuamu masih hidup?" Laki-laki itu menjawab: "Masih,
bahkan keduanya masih hidup." Beliau kembali bersabda: "Apakah kamu
ingin mendapatkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta'ala?" Lakilaki itu
menjawab: "Ya." Kemudian, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Kembalilah kamu kepada kedua orang tuamu dan berbaktilah kepada
keduanya." (HR. Muslim no. 2549, dari Ibnu 'Amr radhiyallahu 'anhu)
7. Memberikan
Harta Kepada Orang Tua Menurut Jumlah Yang Mereka Inginkan
Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam pernah bersabda kepada seorang laki-laki ketika ia berkata:
"Ayahku ingin mengambil hartaku." Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda: "Kamu dan hartamu milik ayahmu."
(HR. Ahmad,
II/204, Abu Dawud no. 3530, dan Ibnu Majah no. 2292, dari Ibnu 'AMr
radhiyallahu 'anhu. Hadits ini tertera dalam kitab Shahiihul Jaami no. 1486)
Oleh
sebab itu, hendaknya seseorang jangan bersikap bakhil (kikir) terhadap orang
yang menyebabkan keberadaan dirinya, memeliharanya ketika kecil dan lemah,
serta telah berbuat baik kepadanya.
8.
Membuat Keduanya Ridha Dengan Berbuat Baik Kepada Orang-orang yang Dicintai
Mereka
Hendaknya
seseorang membuat kedua orang tua ridha dengan berbuat baik kepada para
saudara, karib kerabat, teman-teman, dan selain mereka. Yakni, dengan
memuliakan mereka, menyambung tali silaturrahim dengan mereka, menunaikan
janji-janji (orang tua) kepada mereka. Akan disebutkan nanti beberapa hadits
yang berkaitan dengan masalah ini.
9. Memenuhi
Sumpah Kedua Orang Tua
Apabila
kedua orang tua bersumpah kepada anaknya untuk suatu perkara tertentu yang di
dalamnya tidak terdapat perbuatan maksiat, maka wajib bagi seorang anak untuk
memenuhi sumpah keduanya karena itu termasuk hak mereka.
10. Tidak
Mencela Orang Tua atau Tidak Menyebabkan Mereka Dicela Orang Lain
Mencela
orang tua dan menyebabkan mereka dicela orang lain termasuk salah satu dosa
besar. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda: "Termasuk dosa besar adalah seseorang mencela orang
tuanya." Para Sahabat bertanya: "Ya, Rasulullah, apa ada orang yang
mencela orang tuanya?" Beliau menjawab: "Ada. Ia mencela ayah orang
lain kemudian orang itu membalas mencela orang tuanya. Ia mencela ibu orang
lain lalu orang itu membalas mencela ibunya." (HR. Bukhari no. 5973
dan Muslim no. 90, dari Ibnu 'Amr radhiyallahu 'anhu)
Perbuatan
ini merupakan perbuatan dosa yang paling buruk. Orang-orang sering bergurau dan
bercanda dengan melakukan perbuatan yang sangat tercela ini. Biasanya perbuatan
ini muncul dari orang-orang rendahan dan hina. Perbuatan seperti ini termasuk
dosa besar sebagaimana yang telah disebutkan.
11. Mendahulukan
Berbakti Kepada Ibu Daripada Ayah
Seorang laki-laki
pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam: "Siapa
yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik dariku?" Beliau menjawab:
"Ibumu." Laki-laki itu bertanya lagi: "Kemudian siapa lagi?"
Beliau kembali menjawab: "Ibumu." Laki-laki itu kembali bertanya: "Lalu
siapa lagi?" Beliau kembali menjawab: "Ibumu." Lalu siapa
lagi?" tanyanya. "Ayahmu," jawab beliau."
(HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)
Hadits
di atas tidak bermaksud lebih mentaati ibu daripada ayah. Sebab, mentaati ayah
lebih didahulukan jika keduanya menyuruh pada waktu yang sama dan dibolehkan
dalam syari'at. Alasannya, ibu sendiri diwajibkan untuk taat pada suaminya,
yaitu ayah anaknya. Hanya saja, jika salah seorang dari mereka menyuruh berbuat
taat dan yang lain menyuruh berbuat maksiat, maka wajib untuk mentaati yang
pertama. Maksud lebih mendahulukan berbuat baik kepada ibu, yaitu lebih
bersikap lemah-lembut, lebih berperilaku baik, dan memberikan sikap yang lebih halus
daripada ayah. Hal ini apabila keduanya berada di atas kebenaran. Sebagian salaf berkata: "Hak ayah lebih
besar dan hak ibu patut untuk dipenuhi."
4. Hak-Hak Yang Wajib
Dilaksanakan Setelah Orang Tua Meninggal Dunia
1. Menshalati
Keduanya
Maksud
menshalati di sini adalah mendo'akan keduanya. Yakni, setelah keduanya
meninggal dunia, karena ini termasuk bakti kepada mereka. Oleh karena itu,
seorang anak hendaknya lebih sering mendo'akan kedua orang tuanya setelah
mereka meninggal daripada ketika masih hidup. Apabila anak itu mendo'akan
keduanya, niscaya kebaikan mereka berdua akan semakin bertambah, berdasarkan
sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: "Apabila manusia sudah meninggal, maka terputuslah amalannya
kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang
mendo'akan dirinya." (HR. Muslim no. 1631 dari Abu Hurairah radhiyallahu
'anhu)
2. Beristighfar
Untuk Mereka Berdua
Orang
tua adalah orang yang paling utama bagi seorang Muslim untuk dido'akan agar
Allah mengampuni mereka karena kebaikan mereka karena kebaikan mereka yang
besar. Allah Subhanahu wa TA'ala menceritakan kisah Ibrahim Alaihissalam dalam
Al-Qur'an: "Ya, Rabb kami, beri
ampunlah aku dan kedua ibu bapakku..." (QS. Ibrahim: 41)
3. Menunaikan
Janji Kedua Orang Tua
Hendaknya
seseorang menunaikan wasiat kedua orang tua dan melanjutkan secara
berkesinambungan amalan-amalan kebaikan yang dahulu pernah dilakukan keduanya.
Sebab, pahala akan terus mengalir kepada mereka berdua apabila amalan kebaikan
yang dulu pernah dilakukan dilanjutkan oleh anak mereka.
4. Memuliakan
Teman Kedua Orang Tua
Memuliakan
teman kedua orang tua juga termasuk berbuat baik pada orang tua, sebagaimana
yang telah disebutkan. Ibnu Umar
radhiyallahu 'anhu pernah berpapasan dengan seorang Arab Badui di jalan menuju
Makkah. Kemudian, Ibnu Umar mengucapkan salam kepadanya dan mempersilakannya
naik ke atas keledai yang ia tunggangi. Selanjutnya, ia juga memberikan
sorbannya yang ia pakai. Ibnu Dinar berkata: "Semoga Allah memuliakanmu.
Mereka itu orang Arab Badui dan mereka sudah biasa berjalan." Ibnu Umar
berkata: "Sungguh dulu ayahnya teman Umar bin al-Khaththab dan aku pernah
mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya
bakti anak yang terbaik ialah seorang anak yang menyambung tali persahabatan
dengan keluarga teman ayahnya setelah ayahnya tersebut meninggal."
(HR. Muslin no. 2552 dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu)
5. Menyambung
Tali Silaturahim Dengan Kerabat Ibu dan Ayah
Hendaknya
seseorang menyambung tali silaturahim dengan semua kerabat yang silsilah
keturunannya bersambung dengan ayah dan ibu, seperti paman dari pihak ayah dan
ibu, bibi dari pihak ayah dan ibu, kakek, nenek, dan anak-anak mereka semua.
Bagi yang melakukannya, berarti ia telah menyambung tali silaturahim kedua
orang tuanya dan telah berbakti kepada mereka. Hal ini berdasarkan hadits yang
telah disebutkan dan sabda beliau shallallahu 'alaihi wa sallam: "Barang siapa ingin menyambung silaturahim
ayahnya yang ada di
kuburannya, maka sambunglah tali silaturahim dengan
saudara-saudara ayahnya setelah ia meninggal."
(HR. Ibnu Hibban no. 433 dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu. Hadits ini tertera
dalam kitab Shahiihul Jaami' no. 5960)
Comments
Post a Comment